Powered by Blogger.

Heartbeads

    • Creativity
    • Make Up
    • Skin Care
    • Mamahood
    • Travel


    Sesuatu yang mungkin baru dimulai, atau bahkan dianggap 'nyeleneh', biasanya muncul keraguan dan pesimistis dari beberapa orang, bahkan mungkin dari orang terdekat.

    Sesuatu yang baru, yang sudah kelihatan hasilnya WAH dan/atau WOW, baru diapresiasi. Padahal hasil dari sesuatu yang baru itu juga butuh proses, yang patut dinikmati jatuh bangunnya, bahkan entah kapan kita baru menikmati hasilnya.

    Namun...

    Sesuatu yang dikerjakan dengan hati nurani, niscaya akan dibukakan jalan, bahkan mungkin jalan yang ga diduga, yang ga pernah kita pikirkan sebelumnya.

    Ada proses, ada usaha, ada cerita masing-masing dari setiap hasil.

    Jangan pernah mudah dipatahkan untuk sesuatu yang benar-benar dibuat dari hati, karena hasilnya pasti akan 'berbeda'. Tetap lakukan yang terbaik, dan tetap lakukan itu dengan segenap hati.


    Have a great day!

    Xoxo,

    Continue Reading

    Keluar dari zona nyaman tentu akan melewati banyak perubahan yang drastis untuk seseorang. Tak terkecuali diri saya. Dari wanita karir yang mendapat penghasilan tetap, kini menjadi ibu rumah tangga. Ya tetap mendapat penghasilan dari suami sih *eh*. Keduanya memang perlu dikontrol, tapi apa yang membedakan kedua situasi ini?


    Continue Reading


    Disclaimer :
    Aku bukan ahli medis. Aku hanya sharing apa yang pernah dialami mulai dari gejala hingga pengobatan yang dijalani. Jika ada kondisi atau gejala yang serupa dengan pengalamanku, sebaiknya langsung dikonsultasikan kepada dokter. Seluruh obat yang diberikan juga merupakan resep dokter.


    Ini pertama kalinya aku sharing tentang kondisi kesehatan yang pernah aku alami. Puluhan direct message yang masuk menanyakan hal yang sama soal penyakit ini. Autoimun.

    Kalau kata temanku yang dokter, autoimun merupakan penyakit genetik dengan persoalan yang sangat kompleks, bahkan buku-buku yang dipelajari juga sangat tebal. Setelah aku coba googling, ternyata buanyaaaak sekali jenis autoimun yang dapat menyerang manusia, mulai dari yang umum sampai yang sangat langka sekalipun, mulai dari yang ringan, bahkan sampai membahayakan.

    Sebetulnya belum banyak dari kerabat dan teman-temanku yang tahu kalau aku terkena penyakit autoimun jenis imun alergi yang tinggi (Immunoglobulin E). Tapi tekadku sudah bulat untuk sharing dan ternyata banyak sekali yang gejalanya mirip dan masih belum tahu bagaimana pengobatannya. Pembahasan secara teori dan klinis tentang IgE lengkapnya bisa baca disini ya (untuk orang awam termasuk saya, pasti pusing :D)



    ***

    2 Januari 2016
    Baru saja menikmati tahun yang baru, tiba-tiba badan aku penuh dengan bentol-bentol ga jelas. Awalnya hanya bentol kecil seperti gigitan nyamuk biasa, tapi lama kelamaan koq malah makin melebar dan membesar, bahkan terasa panas. Ga cukup sampai disitu, malah bentol makin bermunculan di tempat lainnya. Panik bukan main. Dulu banget waktu kecil memang aku pernah mengalami seperti ini, tapi hanya sebentar dan dikasih balsem sudah kembali semula. Tapi bentol yang kali ini, aku merasa ga tahan. Gatel ga karuan, makin digaruk malah makin nagih. Akhirnya aku minum obat alergi Incidal sebagai first remedy.





    Besoknya aku memutuskan ke rumah sakit untuk pengobatan. Aku lupa banget ke dokter siapa namanya, yang pasti dokter kulit (sebut saja DK-A). Setelah di cek, aku disarankan untuk cek darah terlebih dahulu untuk tahu aku nih alergi apa. Aku pun juga lupa waktu tahun baru makan apa, entah seafood, entah telor (ya ampun telor uda makanan aku sehari-hari dari kecil), alergi dingin, dll.

    Hasil cek darah akhirnya keluar esok harinya. Ternyata pemicu alergi (seafood, telor, dll) tersebut hasilnya negatif. Tapi ada 1 komponen yang bertuliskan IgE aku skornya terlalu tinggi. Normalnya harusnya <100, tapi hasil aku 700 sekian. JAUH BANGETTTT. Akhirnya aku balik lagi ke DK-A untuk konsultasi. Dokter tersebut mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait IgE ini. Aku hanya disarankan untuk stop makan makanan yang biasa jadi pemicu alergi seperti ikan, udang, kepiting, telor, tepung (yaaa ampuuunn itu makanan doyanan aku semua). Struggle banget selama 2 minggu tidak makan itu semua. Sehari-hari mungkin menu makanan aku hanya sop, sayur-sayuran, ayam, tahu, tempe.




    Selama 2 minggu aku puasa makan makanan yang diharuskan pantang sama dokter, ternyata tidak mengubah keadaan. Bentol-bentol itu tetap muncul, malah makin sering, yang tadinya bisa 1 minggu sekali, malah jadi 2-3 hari sekali. Stress banget, apalagi munculnya selalu di malam hari menjelang tidur. Aku dan suami sama-sama ga bisa tidur, karena annoying banget gatelnya, badan terasa panas dan berasa 'enak' kalau digaruk, sampe aku mandi air panas malam-malam untuk meredakan gatal dan panas bentolnya. Sering mengkonsumsi Incidal pun bikin aku teler, karena efek di aku sangat mengantuk. Kerja pun jadi ga karuan, ga konsen.

    Akhirnya aku second opinion ke dokter kulit lainnya (sebut saja DK-B) sambil membawa hasil cek darah awal. Aku sangat penasaran dengan IgE ini, tapi aku belum googling karena pikir mau bertanya langsung ke ahli medisnya. Ternyata beliau juga mengatakan hal yang sama, tidak perlu mengkhawatirkan IgE ini. Aku hanya disuruh pantang (lagi) makanan pemicu alergi, ditambah dengan tidak makan oatmeal. Dicoba lagi pantang makanan tersebut, tapi bentol koq makan terus menerus muncul. Yang ada durasinya malah konsisten 2 hari sekali. Makin parahnya, mata dan mulut aku juga sering bengkak. Sebelumnya aku ga pernah mengalami bengkak di mata dan mulut seperti ini. Sungguh mengganggu aktivitas banget. Kalau mata dan mulut bengkak, aku suka ijin pulang dari kantor karena berasa panas dan ga tahan untuk menggaruk. Please sewaktu lihat fotonya, jangan shock. Foto di bawah hanya sebagian kecil dokumentasi saat kambuh, dimana munculnya bisa setiap 2 hari sekali.












    Third opinion, kali ini aku ke dokter internis (sebut saja DI-A). Kenapa memilih ke dokter internis? Karena biar cek juga sebetulnya ada organ apa yang lagi ga stabil. Selesai di cek ternyata ga ada yang perlu dikhawatirkan. Jadi makin bingung dan gelisah, koq ini gatelnya muncul terus. Malah bukan hanya bentol, ini ditambah mata dan bibir bengkak-bengkak! Bahkan pernah saking ga tahan sama gatel dan panasnya, aku pergi ke klinik untuk minta disuntik untuk menghilangkan gatelnya.

    Beberapa bulan terus bergantung sama obat penghilang gatal (awalnya minum Incidal, setelah ngobrol sama apoteker yang bekerja di Century, dia menyarankan untuk minum Xyzal karena dosisnya lebih ringan dan tidak membuat ngantuk. Obat Xyzal ini selalu kubawa kemana-mana. Kalo bentol sudah mulai menyebar, langsung aku minum obatnya dan bentol ga lama menghilang. Terus begitu.


    Agustus 2016
    Alternatif pun juga sudah aku coba. Karena melihat sharing-nya Tanya Larasati soal terapi Bio Resonance, aku pun juga berpikir untuk mencobanya, setidaknya bisa terdeteksi juga sebetulnya aku alergi apa. Meluncur ke daerah Jakarta Selatan yang cukup jauh dari tempat tinggalku, kami berkonsultasi dan saat itu mulai diterangkan bagaimana mekanisme pengecekannya. Dengan cairan NaCL dan aliran elektromagnetik, bisa terdeteksi tubuh aku ini alergi apa. Ternyata aku alergi cukup banyak, ada alergi dingin, tepung, debu, tungau, telor ayam, telor bebek, telor puyuh, kepiting, bahkan asap rokok. Waduh cukup shock sih, karena ternyata banyak banget. Dokter menyarankan untuk puasa semua pemicu alergi ini selama 2 minggu, baru dicek lagi perkembangannya. Selama 2 minggu aku puasa makan gorengan, mie, telor, AC dengan suhu biasa, sedot tungau kasur dan sofa, reaksi alergi dengan bentol dahsyat malah tetap muncul dan tidak berkurang. Akhirnya aku kembali lagi untuk konsultasi dan mulai rutin melakukan terapi. Sudah 2x terapi, entah kenapa di badan aku ga ada perubahan. Bentol itu muncul lagi dan muncul lagi. Akhirnya aku stop terapi.




    Sampai suatu kali aku ngobrol dengan temanku yang dokter (padahal temanku dokter mata hihihi), dia menyarankan untuk ke dokter imunologi. Wah dipikir-pikir, imunologi ini tuh apa? Aku masih blank dan ga ngerti sama sekali.

    Flashback waktu melihat hasil cek darah pertama kalinya, aku kembali mencari tahu apa itu IgE.  Memang sempat curiga sih, pasti ada masalah dengan skor IgE dari cek darah awal yang skornya >700 itu. Setelah dicari tahu, banyak banget artikel yang bermunculan tentang IgE ini. Orang awam seperti saya bacanya sampe berulang-ulang karena bahasanya cukup teknis dan medis. Intinya, IgE ini adalah penyakit autoimun yang mengarah ke alergi. Pemicunya bisa banyak dan darimana saja. Badan kita ini rentan terhadap banyak pemicu alergi. Tapi akar masalahnya tetap pada IgE itu sendiri. Bahkan ada yang menulis kalo penyakit ini penyakit langka. Waduh koq makin ngeri.

    September 2016
    Akhirnya aku mengikuti saran temanku untuk datang konsultasi ke dokter imunologi. Waktu itu aku direkomendasikan sebaiknya langsung ke Dr. Nanang Sukmana. Beliau dokter autoimun yang sudah puluhan tahun dan banyak kondisi pasien yang keadaannya jauh lebih baik setelah berobat sama Dr. Nanang. Mencoba kontek ke salah satu rumah sakit tempat Dr. Nanang praktek di daerah Kemayoran, ternyata antriannya luar biasa penuh. Jadwal konsultasi baru kosong paling cepet 1 bulan kemudian. Wow! Aku pikir koq segitu banyaknya ya yang terkena penyakit autoimun.

    Akhirnya hari pemeriksaan tiba, aku deg-degan setengah mati, Takut sekali kalau ada diagnosa yang sangat serius yang selama ini ga pernah tahu. Tapi karena wajah teduhnya Dr. Nanang Sukmana, perlahan aku tarik napas dan mencoba menenangkan diri. Beliau mendengarkan keluhan yang aku alami, membaca hasil tes darah sebelumnya, dan mulai memeriksa tubuh aku.

    "Ya, kalau IgE ini tinggi, memang berpengaruh dengan saluran rahim. Ada 2 kemungkinan kalau nanti hamil tapi IgE ini tidak diobati : antara keguguran sebelum 3 bulan, atau nanti ukuran anaknya kecil. Jadi baiknya IgE ini disembuhkan dulu.

    Suasana langsung hening.

    HENING......

    Aku dan suami langsung bertatapan. Suami tahu kalau aku ini sudah mau nangis. Aku sendiri berusaha tegar dan menahan tangis, tapi sebetulnya hati ini tersayat. Berusaha untuk ga menyalahkan diri, tapi di sisi lain ada rasa ga enak sama suami. "Jadi selama ini 'kosong' 3 tahun karena IgE ini...", pikir aku. 

    "Oke saya kasih obat penurun IgE, terus puasa ikan laut, daging babi, durian, sama daging bebek ya." Aku manggut-manggut, meskipun ga tau bisa puasa makanan itu semua atau engga, tapi yang jelas, aku hanya ingin sembuh, apalagi sudah tahu kalau ternyata IgE yang tinggi ini berpengaruh dengan saluran ke rahim. "Saya kasih vitamin D juga ya, coba rajin jemur matahari pagi. Saya kasih surat pengantar untuk cek vitamin D-nya juga ya". Kemudian disodorkan surat pengantar untuk cek darah untuk mengetahui kandungan vitamin D di dalam tubuh aku. Setelah 1 jam kemudian menebus obat ke apotek, kami pulang ke rumah dan sudah larut malam. Aku pun tak kuasa mengeluarkan air mata di mobil setelah selesai dari RS.




    Beberapa hari kemudian sudah aku lakukan cek darah, aku kembali konsultasi ke Dr. Nanang 1 bulan kemudian (ya, saking ramainya, harus appointment dari jauh-jauh hari). "Ya, kamu kekurangan vitamin D. Rajin jemur ya setiap pagi. IgE juga salah satu penyebabnya karena kurang vitamin D". Pastinya saya manut mengikuti saran Dr. Nanang. Toh juga aku senang matahari, tapi ga pernah rutin berjemur tiap hari aja.

    Konsisten ga pernah skip minum obat dan rajin berjemur 15 menit setiap pagi sebelum jam 8, apakah masih muncul bentol-bentol yang mengganggu? Ternyata masih! Tapi setelah minum obat penurun IgE beberapa bulan, bentolnya muncul lebih jarang, yang tadinya 2 hari sekali menjadi seminggu 1-2x. Dr. Nanang juga sudah pesan kalau memang bentolnya muncul dan mengganggu aktivitas, gapapa diminum obat alerginya dengan dosis yang ringan. Obat Xyzal ini termasuk yang ringan. Sayangnya setelah beberapa lama aku minum obat penurun IgE, efek sampingnya justru di lambungku yang menyebabkan mudah sakit maag. Akhirnya aku mengurangi dosis obat penurun IgE atas approval Dr. Nanang.


    Awal tahun 2017 (lupa di bulan apa)
    Karena Dr. Nanang praktik di RS daerah Kemayoran hanya ada di hari biasa, sedangkan aku tepar banget kalau pulang kerja kemudian kontrol sampai larut malam, akhirnya aku ke RS lain dimana Dr. Nanang praktik di hari Sabtu. Lalu aku pindah ke RS Antam di daerah Pulogadung. Memang lebih jauh, tapi setidaknya lebih fleksibel di hari Sabtu. Tetap nurut dengan pesan Dr. Nanang untuk puasa mengkonsumsi makanan tertentu dan rutin minum obat, lama kelamaan bentolnya jadi jarang muncul. Asumsi aku mungkin skor IgE sudah kembali normal. Setelah konsultasi lagi, Dr. Nanang merujuk aku untuk kembali melakukan cek darah. Hasilnya? Turun jauh menjadi 200! Wah senang bukan main. Ada perasaan lega dan plong. Kembali datang ke Dr. Nanang dan memberikan hasil IgE yang update. Tapi Dr. Nanang menyarankan untuk tetap menjaga pola makan, menghindari stres, dan rajin berjemur, karena ada kemungkinan IgE bisa kembali naik karena tergantung pola hidup kita. Sayangnya saat menyerahkan hasil cek darah update, dokumen asli aku serahkan ke Dr. Nanang, jadi ga punya dokumentasinya. "Obat penurun IgE tetap diminum ya, tapi ga perlu setiap hari. Ini saya kasih tablet untuk bantu membuka pembuluh darah. Diminum setiap hari ya"

    Setelah beberapa bulan, aku ga pernah datang untuk konsultasi lagi karena sudah ga pernah muncul bentol-bentol lagi. Lega banget, aktivitas juga kembali normal dan tidur pun kembali nyenyak. Aku juga sudah stop minum penurun IgE karena merasa memang sudah ga kenapa-kenapa dan skor IgE sudah menurun. Tapi aku tetap mengkonsumsi vitamin E yang diberikan karena skornya memang sangat jauh dari normal dan juga obat 'pembuka' pembuluh darah.

    Mei 2017
    Sibuk dengan urusan pindahan rumah plus ada trip dari kantor, aku merasa badan aku ga enak, cepet lemes dan pusing. Aku memang sudah 1 minggu telat menstruasi. Sampai akhirnya, aku mau pingsan saat perjalanan pulang ke rumah. Makan rendang pun ga nafsu, padahal biasanya bisa nambah nasi 2 porsi. Memang sudah feeling pada saat sudah telat menstruasi, dan aku sudah siapkan testpack jika sewaktu-waktu diperlukan. Hampir pingsan dan ga doyan rendang ini yang jadi 'kode' kalau aku perlu cek. Besok pagi saat bangun tidur, aku langsung cek dengan testpack yang aku beli.

    Tanganku bergetar ketika melihat hasilnya ada 2 garis merah: 

    POSITIF...!!!

    Ya, akhirnya aku positif hamil. Bisa kebayang kan reaksi aku dan suami gimana setelah melewati masa-masa penyembuhan autoimun ini. Terharu, senang, deg-degan, nangis.

    Tapi aku ga mau terlalu girang. Mengingat pesan Dr. Nanang jika IgE-nya tinggi, ada 2 kemungkinan, salah satunya bisa mengalami keguguran sebelum 3 bulan, aku terus berdoa untuk minta kekuatan si janin supaya bertumbuh dengan kuat dan sehat. Setelah 3 bulan lewat dan kondisi janin baik, aku beneran lega.

    Pernah aku melakukan upload testpack positif dan mention soal autoimun, aku banjir direct message di Instagram. Ternyata, banyak sekali kejadian serupa yang dialami orang lain. Ada yang sudah pernah mengalami keguguran dan baru tahu kalau ada autoimun, ada yang juga sedang dalam pengobatan dengan Dr. Nanang juga, ada yang gejalanya mirip-mirip tapi berbeda jenis autoimun, banyak sekali. Dan mereka meminta aku untuk sharing.



    Sampai detik ini di umur anak aku 13 bulan, aku masih amazed sama perjalanan pengobatan autoimun IgE ini. Sudah banyak merepotkan orang, terutama suami yang sering kurang tidur karena aku kesakitan dan mengantar ke dokter hingga pulang larut malam, padahal kerjaan juga menumpuk. Belum lagi banyak aktivitas yang terganggu dan takut banget berpengaruh sama performance, tapi beruntungnya atasan aku mengerti kondisi kesehatan aku. Seharusnya sekarang ini aku perlu cek kembali IgE-nya, tapi karena kendala RS yang sangat jauh dari rumahku sekarang, aku lebih memilih pola hidup yang baik, olahraga dan tetap rajin berjemur matahari. Semoga ga ada kambuh-kambuh lagi deh >.<

    Semoga sharing ini bermanfaat ya. Tapi perlu diingat, jika ada gejala yang memang mirip sama aku, sebaiknya langsung konsultasikan ke ahlinya, karena gejala mirip belum tentu  sama penyakitnya. Semoga juga yang sekarang sedang berjuang melawan autoimun, bisa segera sembuh dan kembali normal ya. Amin!

    Stay healthy, stay happy <3
    Thank you for reading.


    Xoxo,







    Continue Reading

    "Wuihhhh Sus! Sekarang uda kaya influencer lho. Review produk dan nulis-nulis di blog."

    Sebelum berkomentar terlalu jauh, aku memang sempat berpikir di awal kenapa aku ingin menulis blog. Bukan cuma sekedar #sharingiscaring. Bagi orang yang (ternyata) senang menulis sesuatu, pasti deh merasakan hal yang sama. Segala macam ide, referensi, rekomendasi, informasi, terasa 'ga enak' kalau hanya dipendam sendirian, bahkan ga jarang sampai ga bisa tidur lho. Serius. Perasaan seperti ini sudah aku rasakan sejak kuliah. Kalau ga dituangkan, malah terbawa ke pikiran sampai ga bisa tidur. Awalnya aku hanya tulis-tulis iseng di buku diary sendiri, tapi balik lagi, rasanya dituangkan saja tuh ga cukup. Informasi yang bagus kenapa ga di share aja sekalian. That's why, aku tumpahkan di blog maupun media sosial seperti Instagram dan Facebook. Ga cuma sekedar pengen dibaca orang, tapi sebagai reminder diri sendiri juga. Syukur kalau orang lain membaca dan juga ikut terpengaruh dampak positifnya.

    Menulis juga ternyata menjadi me-time yang menyenangkan semenjak aku menjadi ibu. Memang sering terjadi mood-swing karena riweuh mengurus bayi, tapi dari situ justru aku belajar bagaimana tetap konsisten dan stabil dalam kondisi apapun. Kalaupun sudah sangat kelelahan, aku ga memaksakan diri. 

    Rest if you must, but don't you quit.

    Mantra ini yang selalu aku ucapkan kalau lagi kelelahan. Istirahat sejenak, berpikir jernih, lalu kembali beraktifitas.

    Kepercayaan diri untuk menuangkan tulisan di blog mungkin ga akan terjadi kalau Tuhan ga mempertemukan aku dengan Alodita. Workshop yang aku ikuti pertama kalinya waktu bulan Oktober 2015 di salah satu beauty workshop sekaligus membahas sedikit tentang blogging. Dari situ aku semakin pede untuk menulis di blog. Untuk mekanisme dan tips mengenai blogging, bisa dibaca di my blog guru Alodita di topik 'Blogging 101' ya. 

    Bagi aku, menulis juga salah satu ladang kita untuk menjadi berkat. Aku selalu diingatkan seperti ini: kalau kita tidak bisa menjadi lilin, setidaknya kita bisa menjadi cermin untuk memantulkan cahaya lilin. Selama tulisan kita berkonten yang positif dan informatif, tulisan kita secara ga langsung bisa jadi berkat untuk orang lain koq ;)

    Jadi, yang aku lakukan sekarang bukan sekedar 'ikut-ikutan' seperti yang dikira orang. Influencer baru memang sudah menjamur sekarang, karena kelihatannya kerjaannya 'asik'. Nulis, dibayar, beres. Padahaaaaal, ga semudah dan ga segampang itu. Tetap butuh usaha, modal, kreativitas, komitmen dan konsistensi (penting YES!). 

    Let's spread the love, spread the positive vibes, and spread the blessings.

    Semangat beraktifitas, semuanya!
    Have a great day.

    Xoxo,





    Continue Reading

    Biarpun membuka bisnis kecil-kecilan di rumah, konsisten perlu dilakukan supaya terus berjalan. Layaknya seperti karyawan kantoran yang mendapat jatah cuti melahirkan selama 3 bulan, aku juga sudah memulai kembali di dunia crafting, terutama membuat aksesoris. Mudah-mudahan Heartbeads terus ada dan terus berjalan, jadi aku pribadi juga harus konsisten. Karena tantangan dari menjalani passion bukan hanya sekedar melakukan sesuatu yang disenangi, tapi bagaimana mempertahankannya, jadi akan ada banyak kisah nantinya.




    Rasanya senang sekali awal April kemarin bisa kembali duduk di meja kerja sambil mengutak-atik manik-manik, berpikir dan mencari ide desain, dan tangan ga jauh-jauh dari tang, gunting dan penggaris sebagai tools. Prioritas utama tetap menjaga dan membesarkan bayi, makanya durasi pembuatan produk juga aku buat agak lama, yang tadinya 1-2 hari beres mungkin sekarang customer perlu bersabar menunggu selama semingguan, karena perlu mencuri waktu pas bayi lagi tidur untuk membuat dan mengambil foto. Kalau packing sih bisa minta bantuan ART hahaha. Tertantang banget untuk bisa balance menjalani 2 hal ini, tapi tetap menyenangkan ;)

    Ready stock bisa dilihat di instagram @susyana_heartbeads, monggo dilihat-lihat ya :D
    Atau simply bisa langsung chat di line : susyana.

    Thank you!
    Have a good day :)


    Continue Reading

    Disclaimer dulu ya :
    1. Aku bukan ahli laktasi. Aku hanya ingin berbagi pengalaman pribadi tentang perjalanan aku mulai menyusui.
    2. ‎Aku bukan anti susu formula (sufor). Hanya saja aku memang memilih untuk memberi ASI karena sudah diberikan dari Yang Di Atas. Tidak ditujukan untuk perdebatan antara ASI maupun sufor, karena itu adalah pilihan setiap para ibu.

    Continue Reading

    Menjadi seorang ibu baru tentunya mempunyai tantangan tersendiri. Senang? Tentu saja. Bahagia? Pastinya. Tapi perlu diingat ada PR yang harus dijalani setelah masa kelahiran, dan itu sangat sangat sangat menantang. Menyusui, menahan nyeri luka sehabis operasi, kurang tidur, menghadapi bayi cranky, bisa saja sangat menguras tenaga dan pikiran. Hidup rasanya seperti roller-coaster karena kita harus bisa mengontrol emosi di tengah capenya badan kita. Waktu yang dijalani sehari-harinya sudah terfokus pada merawat bayinya, bahkan bisa sampai lupa untuk mengurus diri sendiri. Semua ibu baru pasti butuh penyesuaian yang amat sangat besar karena selalu ada saja kejutan dan belajar sesuatu yang baru dalam merawat anak pertama kalinya.
    Continue Reading

    Menjadi ibu baru pastinya banyak penyesuaian yang perlu dipelajari. Mulai dari waktu tidur, prioritas belanja, hingga waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Waktu yang berjalan pasti banyak tersita dengan mengurus bayi. Aku sendiri juga suka ga berasa tau-tau uda sore aja, karena sekali menyusui plus sendawain sudah habis 1 jam sendiri.

    Continue Reading

    Aloha!

    Setelah beberapa minggu di awal tahun 2018 akhirnya aku menyempatkan diri untuk menulis lagi karena aku disibukan dengan persiapan kelahiran dan merawat sang buah hati yang sudah kami nantikan. 

    Tepat tanggal 4 Januari 2018 kemarin, puji Tuhan bayi yang aku kandung selama 38 minggu 6 hari lahir ke dunia dengan selamat dan sehat sejahtera. Kemarin pas tahun baru sih uda siap-siap aja bakalan ke rumah sakit, karena sudah terlihat ada tanda kontraksi sedikit. Dikira bakalan tahun baru di rumah sakit, tapi deboy mungkin masih sedikit betah di perut, dan mungkin takut kaget denger suara kembang api kali hihihi.

    Continue Reading

    Sebetulnya agak terlambat sih kalo aku upload Christmas Collection 2017 ini di blog, karena sudah close order, mengingat aku sudah mengambil cuti untuk persiapan persalinan. Duh deg-degan hihihi. Tapi sudah menuju ke arah pasrah. Mikir yang positif aja, bahwa semua akan baik-baik saja. Afirmasi positif terus dengan deboy. Aku pun juga sudah ga sabar bertemu dengannya.
    Continue Reading

    Berasa ga kalo kita mengerjakan sesuatu yang monoton dan itu-itu aja, bakalan bosen ga sih hidup kita? Apalagi aku pun tipe orang yang gampang bosen dalam hal melakukan sesuatu. Warna lipstick aja suka bosen kan? Jadinya beli yang baru hahaha *lho?!*

    Continue Reading

    Selalu kangen dengan suasana pantai, dengan menapak di pasir yang halus dan angin semriwing. Entah kenapa kalo soal pantai uda pasti kepikiran Bali. Padahal di Indonesia banyak sekali pantai yang sangat bagus. Someday bisa mengekplor lebih banyak pantai lagi di Indonesia. Makin excited kalo bisa membawa anak traveling ke pantai juga :) <3

    DI foto ini mungkin sebuah mimpi juga kalo bisa ke Hawaii, atau bahkan Maldives juga hihihi! Amin!

    Xoxo,




    Continue Reading

    Pilihan untuk fokus menjadi full time mom pasti banyak dialami kebanyakan wanita, termasuk aku sendiri. Keputusan yang diambil pastinya butuh diskusi dan pemikiran yang panjang, karena akan ada banyak perubahan dan penyesuaian.

    Continue Reading

    Memutuskan untuk resign dari kantoran yang sudah berjalan selama 9 tahun dan menetap di rumah bukanlah perkara yang mudah buat aku. Pergumulan ini muncul dalam jangka waktu yang panjang karena sudah mulai memikirkan prioritas ke keluarga dan anak-anak nanti. Aku ga sendiri, pastinya orang di luar sana, terutama wanita sih yang sering mengalami proses seperti ini. Pasti deh dalam hati kecil, memiliki title seorang ibu rumah tangga terkadang muncul kegelisahan. Jenuh, ga bebas, ga banyak teman, bahkan dalam persoalan uang pun merasa 'ga secure' karena bergantung dengan suami.
    Continue Reading

    Selama seminggu ini aku sudah menggunakan jasa ART di rumahku. Dia berasal dari daerah kecil yang dekat dengan Pelabuhan Ratu, Banten. Ini pertama kalinya aku akhirnya memutuskan untuk memanggil jasa ART karena sudah ga sanggup mengendalikan urusan rumah tangga sendirian, khususnya untuk urusan bersih-bersih. Big thanks to Andra yang sudah merekomendasikan penyalur ART ke aku. 

    Continue Reading

    Mungkin kalo yang pernah membaca postingan dari blog aku ini, selain beauty, travelling, dan thoughts, ada tersempil artikel dan foto dari aksesoris seperti gelang-gelang yang aku buat. Ya, sebetulnya nama blog ini terambil dari bisnis kecil-kecilan aku bernama Heartbeads yang bergerak di bidang aksesoris seperti gelang, kalung, gantungan tas, dll. 

    Continue Reading

    Aloha!

    Bulan Maret-April kemarin bisa jadi bulan yang tersibuk, sampai belum sempat lagi untuk update blog. Finally, setelah jungkir balik jatuh bangun **ekstrem**, aku dan suami sudah bisa punya rumah sendiri, semua memang dari berkat yang Di Atas. Meskipun lokasi dari kota cukup jauh, kami berdua bersyukur dan bahagia bisa manage rumah kami sesuai dengan yang kami mau. Direnovasi seperti ini, beli sofa mau warna ini, barang ini letaknya disini, barang itu letaknya disitu, semua kami putuskan sendiri. Perdebatan pun juga ga pernah berhenti, ada aja hal kecil yang didebatkan dengan suami. Tapi dari situ kami belajar untuk bisa bekerja sama dengan baik :)
    Continue Reading

    Mungkin sering dengar istilah kalo ga ada yang gratis di dunia ini. Tapi bagi saya, hal itu ada. Seharian kemarin ini saya mendapat triple messages yang menyadarkan saya, dan rasanya sayang banget jika hanya disimpan sendiri oleh saya.

    Continue Reading

    Sering ga sih alami kalo sesuatu yang dadakan tuh baru bisa kejadian? Sedangkan yang sudah direncanain dari jauh-jauh hari, malah ga kesampean. Untuk urusan janjian hang out, reuni, atau bahkan jalan-jalan, sering banget kan kaya begitu? Aku pun juga sering merasakan hal yang sama. Di saat teman-teman kantorku dadakan ngajak jalan-jalan ke Monas, aku ga pake berpikir panjang, "WHY NOT?!". Toh juga sudah mainstream sekali untuk ke mal dan cafe.

    Continue Reading

    Pagi ini terasa tenang di meja kantorku, jadi sembari mengumpulkan nyawa semangat senin, sembari merenung sebentar. Jam-jam sibuk seperti ini, rasanya sudah lama sekali untuk ga self-reflection sejenak.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Female/JKT, mantan 'penjaga' perusahaan a.k.a auditor, merangkap pembuat aksesoris wanita, ibu rumah tangga beranak satu, senang sharing soal beauty, wellness, lifestyle, dan kini mamahood.

    Follow Me

    • instagram
    • facebook

    Explore This Blog

    Recent Posts

    Labels

    Creativity Event Homemade Cooking by Susy Lifestyle Make up Motherhood Personal Pregnancy Skin Care Travel

    Blog Archive

    • ▼  2019 (12)
      • ▼  August 2019 (3)
        • Maybelline Total Tempation Mascara
        • Ketika Mereka Meragukanmu
        • Tips Mencegah Bayi Rewel di Pesawat
      • ►  July 2019 (1)
      • ►  June 2019 (2)
      • ►  May 2019 (1)
      • ►  February 2019 (3)
      • ►  January 2019 (2)
    • ►  2018 (19)
      • ►  December 2018 (2)
      • ►  November 2018 (2)
      • ►  October 2018 (2)
      • ►  September 2018 (1)
      • ►  August 2018 (1)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  April 2018 (2)
      • ►  March 2018 (3)
      • ►  February 2018 (3)
      • ►  January 2018 (1)
    • ►  2017 (37)
      • ►  December 2017 (5)
      • ►  November 2017 (2)
      • ►  October 2017 (6)
      • ►  September 2017 (6)
      • ►  August 2017 (3)
      • ►  July 2017 (3)
      • ►  May 2017 (2)
      • ►  March 2017 (2)
      • ►  February 2017 (4)
      • ►  January 2017 (4)
    • ►  2016 (49)
      • ►  December 2016 (4)
      • ►  November 2016 (3)
      • ►  October 2016 (2)
      • ►  September 2016 (2)
      • ►  August 2016 (3)
      • ►  July 2016 (3)
      • ►  June 2016 (8)
      • ►  May 2016 (6)
      • ►  April 2016 (5)
      • ►  March 2016 (6)
      • ►  February 2016 (3)
      • ►  January 2016 (4)
    • ►  2015 (8)
      • ►  December 2015 (3)
      • ►  November 2015 (5)

    Total Pageviews

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top